Lonceng Bola Mimpi Untuk Meditasi dan Terapi Ibu Hamil

wisata
KLUNGKUNG, balihotnews.com – Desa Budaga, Kelurahan Semarapura Kauh, Kabupaten Klungkung merupakan salah satu desa di Klungkung yang jadi lokasi sentra kerajinan rumah tangga. Menariknya, produk-produk seni yang lahir dari tangan-tangan terampil warga setempat punya ciri khas diantaranya, genta, perlengkapan siwakrana, peralatan upacara terbuat dari logam termasuk yang langka dan unik yakni lonceng bola mimpi (dream ball).
Memiliki warga sekitar 150 KK, hampir setengah lebih warga Budaga menekuni kerajinan rumah tangga, berupa kerajinan logam dengan produk genta dan peralatan upakara seperti siwakrana, umbul-umbul (dewata nawa sanga). Ketrampilan ini diwarisi sejak turun temurun. Menariknya, umumnya di Bali kerajinan yang berhubungan dengan logam dan besi biasanya lebih banyak ditekuni oleh warga pande. Namun tidak demikian halnya di Budaga, warga non pande pun banyak yang sudah menekuni kerajinan rumah tangga ini. “Hampir lima puluh persen warga di Budaga menekuni kerajinan rumah tangga, dari genta dan bola mimpi,” tandas salah seorang warga Komang Agus Usana.

Menurut Nengah Patra ditemui balihotnews.com di rumahnya, historis lahirnya nama bola mimpi diberikan oleh wisatawan asal Amerika.  “Tahun 1991 ada seorang tamu asal Jerman bernama Mr Helmut, pesan bola lengkap membawa contoh,” cerita Nengah Patra seraya mengatakan, saat itu dirinya belum memberikan nama hasil karyanya tersebut. “Kemudian ada lagi turis asal Amerika yang memesan, nah saat itulah saya tanyakan apa cocoknya nama kerajinan ini, lalu dikasi nama bola mimpim (dream ball),” kenang Patra.

lonceng bola mimpi untuk meditasi dan terapi ibu hamil bisa keluarkan suara nyaring

Sejak itulah bola-bola yang terbuat dari logam (kuningan) diisi pelor, dengan suara lembut jika dikocok dinamakan bola mimpi.  Memang, jika bola mimpi semakin lama dikocok suaranya makin membuat hati hening.  Tidak salah penuturan sang pembuat (Nengah Patra), bola mimpi banyak dipakai oleh wisatawan asing untuk alat meditasi. “Saya tidak tahu bagaimana cara penggunaannya, tapi dari sekian banyak turis yang pesan katanya dipakai alat meditasi,” kata Patra.

Sedangkan bola mimpi ukuran kecil lebih banyak dipakai untuk aksesoris seperti liontin,

Khusus yang dipakai aksesoris, bola mimpi dipermak diisi hiasan berupa lapisan (semacam sarung) terbuat dari perak diukir. Sedangkan bola mimpi ukuran besar dengan diameter sekitar 5 centimeter, kebanyakan dipakai oleh para bule untuk terapi orang hamil. “ Cukup dengan digerakkan dibadan orang hamil 3 sampai 5 menit,” ujar pria paruh baya ini. Namun Patra mengaku tidak tahu persis manfaat terapi bola mimpi bagi orang hamil. Ia hanya memperkirakan, suara bola mimpi bisa merangsang pertumbuhan dan otak si cabang bayi. Patra bersama lima anak buahnya dalam sehari bisa membuat 50 bola mimpi ukuran kecil. Sedangkan untuk ukuran sedang, ia bisa membuat 25-30 biji bola mimpi. “ Kalau yang ukuran besar jarang ada yang pesan,” imbuhnya. Untuk harga ? Patra mengatakan harga tergantung besar kecilnya bola mimpi dan tergantung motif. “ Kalau motifnya abstrak atau klasik harganya lebih mahal dibandingkan yang motif halus, semakin rumit pengerjannya harga makin mahal,” demikian Patra seraya menyebutkan kisaran harga bola mimpi per bijinya Rp. 5.000 sampai Rp 300.000.

Proses pembuatan bola mimpi membutuhkan kesabaran tinggi. Diawali dengan pencetakan yakni pembentukan setengah lingkaran bola mimpi yang terbuat dari kuningan. Setelah dua setengah lingkaran bola mimpi dibuat, lalu bagian dalamnya diisi lapisan yang juga terbuat dari kuningan. Lapisan ini dibuat lubang dengan cara digergaji. Lapisan inilah yang sangat menentukan bagus tidaknya suara bola mimpi itu. Setelah diisi lapisan barulah dimasukkan pelor, banyaknya pelor tergantung ukuran bola mimpi. “ Kalau yang kecil biasanya berisi dua pelor, yang besar bisa sampai 8-12 biji pelor,” kata salah seorang karyawan Nengah Patra menimpali. Proses berikutnya, barulah kedua setengah lingkaran bola mimpi disatukan dengan cara disolder dan selanjutnya dihaluskan dan dipolis. “ Jika suaranya tidak bagus, diafkir (tidak dipakai),” imbuh Patra. Semua proses baik dari pencetakan hingga finishing dikerjakan secara tradisional tanpa ada sentuhan mesin. “ Inilah yang disenangi oleh turis, karena dikerjakan secara tradisional,” demikian Patra. Hasil karya Patra ini banyak dikirim ke luar negeri seperti, Eropa, Amerika, Jepang, Inggris. Kalaupun ada warga local yang membeli, tapi kembal dijual kepada wisatawan asing. “ Semua barang ini adalah ekspor, kalau local jarang sekali ada yang order,” pungkas Patra. (nar)

Tinggalkan Balasan