Ekomoni Bali Tumbuh 6,24 Persen, Sumbangan Terbesar Dari Akomodasi

DENPASAR, balihotnews.com – Sektor ekonomi Bali pada tahun 2016 menunjukkan trend pertumbuhan positif. Secara akumulatif, pertumbuhan ekomoni Bali pada tahun 2016 naik sebesar 6,24 persen. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Bali lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya mencapai 5,02 persen. Informasi tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Ir. Adi Nugroho,MM dalam rilis resminya, Senin (6/2).

Lebih jauh Adi Nugroho memaparkan, laju pertumbuhan ekonomi Bali banyak disumbang oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yaitu sebesar 22,82 persen. Hal ini menurutnya berkaitan dengan keberadaan Bali sebagai penyedia jasa akomodasi bagi wisatawan. Sektor lain yang juga berkontribusi cukup besar bagi laju pertumbuhan ekonomi Bali adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 14,74 persen, disusul bidang transportasi dan pergudangan sebesar 9,48 persen. Sementara jasa konstruksi, perdagangan besar dan industri pengolahan masing-masing berkontribusi 8,81 persen, 8,30 persen dan 6,36 persen.
Pada bagian lain, BPS Bali juga menggarisbawahi pesatnya pertumbuhan pada sektor jasa kesehatan. Di tahun 2016, sektor ini menempati peringkat pertumbuhan tertinggi yaitu mencapai 9,00 persen yang susul lapangan usaha bidang pendidikan sebesar 8,91 persen dan infokom 8,59 persen. Sedangkan lapangan usaha bidang akomodasi dan makanan hanya tumbuh 6,69 persen.
Adi Nugroho berpendapat, pesatnya pertumbuhan jasa kesehatan adalah dampak dari makin banyaknya fasilitas kesehatan yang melayani pasien pengguna program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Hal tersebut mendorong peningkatan kesadaran masyarakat untuk berobat ke rumah sakit,” imbuhnya.
Hasil survei BPS juga mengungkap fenomena cukup menarik terkait dengan indeks konsumsi barang/jasa perkelompok pada triwulan III dan IV tahun 2016. Survei menunjukkan bahwa indeks konsumsi bahan makanan mengalami penurunan dari 154,07 persen menjadi 129,51 persen. Sebaliknya konsumsi pulsa HP naik dari 116,46 persen menjadi 117,75 persen. Selain itu, indeks konsumsi pakaian juga menurun dari 132,62 persen menjadi 92,15 persen. “Itu artinya, masyarakat rela menekan biaya untuk membeli bahan makanan dan pakaian agar bisa membeli pulsa HP,” pungkasnya. (humas)




Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.